Masih sangat jelas, kekalahan Tim Garuda Muda (demikian orang menyebutnya) dari Tim Harumau Malaya. hal ini kemudian memberikan kepada kita wawasan yang luas tentang bagaimana membina dan mempersiapkan sebuah tim sepakbola. Jangan pernah menyalahkan siapapun, yang perlu kita pelajari adalah bagaimana membina tim yang lebih baik lagi. Tim Garuda Muda adalah rancang awal untuk masa depan persepakbolaan Indonesia.
Adakah kita mempersiapkan lagi tim yang tangguh untuk SEAGames berikutnya? Atau pertanyaan kita, apakah pembinaan di bawah usia 23 tahun berjalan dengan baik. Tentu jawaban ini mengisyaratkan kepada induk persepakbolaan Indonesia, demikian mungkin jawaban orang kebanyakan.
Tetapi, saya ingin menegaskan kepada Anda para pembaca, bahwa peran utama pembinaan sepakbola di Indonesia berada pada klub-klub profesional. Setiap klub sudah harus membuat proyeksi untuk mempersiapkan individu yang tangguh untuk menjadi anggota timnas yang kuat. Oleh karena itu, sebaiknya setiap klub memiliki lembaga pembinaan pemain muda, mulai usia 15 tahun. Tentu hal ini perlu dukungan dari induk organisasi sepakbola kita (jangan bertengkar melulu dalam mengurus sepakbola). Lebih baik perbanyak diskusi dan analisis, daripada memperbanyak polemik.
Apa yang kita upayakan hari ini, tentu nanti di masa datang baru dapat kita petik hasilnya. Demikian juga sebenarnya dunia sepakbola kita.Timnas yang tangguh harus dibangun sejak dini, berawal dari individu-individu yang kemudian membentuk tim yang kuat.
Program Pembinaan
Semua orang sepakat, bahwa sepakbola bukan hanya keterampilan gerak mengocek bola, ketepatan mengumpan, lompatan tinggi untuk menyundul bola, dan lain sebagainya, tetapi sebaiknya juga melatih karakter dan kepribadian yang utuh. Membangun kerja sama, saling pengertian, saling memahami kedudukan, pola komunikasi yang efektif, disiplin dan kerja keras, tanggap dan tangkas, saling mempercayai, saling memberi dukungan, dan masih banyak lagi yang perlu dibangun dalam sebuah tim sepakbola. dan yang paling penting hafal Indonesia Raya.!
semoga bermanfaat
Pustaka Cendekia
perluas wawasan, perdalam analisa
Senin, 05 Desember 2011
Rabu, 16 November 2011
Pembelajaran Matematika di SD/MI
Pembelajaran Matematika di SD/MI
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memungkinkan semua pihak dapat memperoleh informasi dengan mudah dan melimpah, cepat dan dari berbagai sumber dan tempat di dunia. Dengan demikian siswa perlu memiliki kemampuan memperoleh, memilih dan mengelola informasi untuk bertahan pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti dan kompetitif. Kemampuan ini membutuhkan pemikiran kritis, sistematis, logis, kreatif dan kemauan bekerjasama yang efektif. Cara berfikir seperti ini dapat dikembangkan melalui belajar matematika karena matematika memiliki struktur dan keterkaitan yang kuat dan jelas antar konsepnya sehingga memungkinkan kita terampil berpikir rasional.
Tujuan Pembelajaran matematika yang telah dikembangkan oleh NCTM, disarikan sebagai berikut: (Sue. C. Wortham;2006; 351)
(1) mathematic for life, knowing mathematics can be personally satisfying and empowering
(2) mathematics as a part of cultural heritage, Mathematics is one of the greatest cultural and intellectual achievement of humankind, and citizens should develop an appreciation and understanding of that achievement, including its aesthetic and even recreational aspects.
(3) Mathematics for the workplace, just as the level of mathematics needed for intelligent citizenship has increased dramatically.
(4) Mathematics for the scientific and technical community, although all careers require a foundation of mathematical knowledge, some are mathematics insentive.
Demikian pula yang dikembangkan oleh Robert E Reys dalam Helping Children Learn Mathematics,(1998), dia mengemukakan bahwa pembelajaran matematika adalah study of patterns and relationships; way of thinking; art; language and mathematics is a tool. Pembelajaran matematika harus dirancang sesuai dengan subjek, berdasar pada kebutuhan anak didik, berdasarkan kebutuhan masyarakat.
Penguasaan matematika pada tingkatan tertentu yang merupakan panguasaan kecakapan matematika untuk dapat memahami dunia dan kehidupan nyata agar berhasil dalam hidupnya (tn.tt.). Kecakapan matematika yang ditumbuhkan pada siswa merupakan sumbangan mata pelajaran matematika di sekolah pada pencapaian kecakapan hidup yang ingin dicapai.
Sebagai mata pelajaran yang memberi kecakapan hidup, maka penyajian matematika dalam pelajaran harus hati-hati agar tidak terjadi kesalahan pemahaman pada konsep dan teori. Dalam pembelajaran matematika, guru harus menanamkan pengertian: bahwa matematika adalah berfungsi sebagai alat, pola pikir, dan ilmu atau pengetahuan. Ketiga fungsi inilah yang harus dijadikan dasar dalam pembelajaran matematika.
Dijelaskan dalam buku Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer (Tatang Herman dkk, 2007) bahwa dalam pembelajaran matematika siswa diberi pengalaman menggunakan matematika sebagai alat untuk memahami atau menyampaikan suatu informasi misalnya melalui persamaan-persamaan, atau tabel-tabel dalam model-model matematika yang merupakan penyederhanaan dari cerita, atau uraian. Dalam pembelajaran matematika siswa dibiasakan untuk memperoleh pemahaman melalui pengalaman tentang sifat-sifat yang dimiliki dan yang tidak dimiliki dari sekumpulan objek (abstraksi). Dengan pengamatan terhadap contoh-contoh dan bukan contoh, diharapkan siswa mampu menangkap pengertian suatu konsep. Selanjutnya dengan abstraksi ini, siswa dilatih untuk membuat perkiraan, terkaan, atau kecendrungan berdasarkan kepada pengalaman atau pengetahuan yang dikembangkan melalui contoh-contoh khusus (genaralisasi). Di dalam proses penalarannya dikembangkan pola pikir induktif – deduktif. Tentu semuanya harus disesuaikan dengan kemampuan dan perkembangan siswa sehingga pada akhirnya akan sangat mengacu kelancaran proses pembelajaran matematika di sekolah.
Sebagai ilmu atau pengetahuan, pengajaran matematika di sekolah, guru harus mampu menunjukkan betapa matematika selalu mencari kebenaran dan bersedia meralat kebenaran yang sementara diterima, bila ditemukan kesempatan untuk mencoba mengembangkan penemuan-penemuan sepanjang mengikuti pola pikir yang salah. Karena sebagai manusia, guru memiliki kekurangan dan mungkin dapat melakukan kesalahan. Tentu ini harus dipahami dan bersedia menerima segala bentuk koreksi baik dari siswa, guru yang lain maupun orang lain.
Selain ketiga fungsi tersebut, pembelajaran matematika si sekolah dasar (SD/MI) berupaya untuk mengembangkan kemampuan berhitung, mengukur, menurunkan dan menggunakan rumus matematika sederhana yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari melalui materi bilangan, pengukuran dan geometri.
Pembelajaran matematika di SD/MI juga harus memperhatikan standar kompetensi isi dan standar kelulusan. Kompetensi ini dirancang dan disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan siswa agar dapat berkembang secara optimal serta memperhatikan pula perkembangan pendidikan matematika di dunia sekarang ini. Untuk mencapai kompetensi tersebut dipilih materi-materi matematika dengan memperhatikan struktur keilmuan, tingkat kedalaman materi serta sifat esensial materi dan keterpakaiannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sangat terkait dengan pandangan bahwa dalam pembelajaran matematika hendaklah mengembangkan sifat heuristic anak (Wono; 2005:1). Artinya anak seharusnya dapat menemukan sendiri jawaban dari permasalahan yang dihadapinya.Wallahu a'lam
Langganan:
Postingan (Atom)